▴cover▴ - TRACING TBC TERINTEGRASI DAN CEK KESEHATAN GRATIS (CKG) KECAMATAN SANANWETAN KOTA BLITAR
- PRESTASI MEMBANGGAKAN PRODI D3 KEPERAWATAN KAMPUS BLITAR
- GEMILANG DI TINGKAT NASIONAL! 9 MAHASISWA TEMBUS 10 BESAR NILAI UKOM TERBAIK NASIONAL 2026
- KEGIATAN KULIAH TAMU NASIONAL - KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026
- KEGIATAN UPACARA BENDERA - KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026
- PENERIMAAN TAMU RACANA DAN DIKLAT SAKA BAKTI HUSADA 2026
- KEGIATAN WATER RESCUE, SELASA - 25 AGUSTUS 2026
- KULIAH TAMU INTERNASIONAL
- UPACARA HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI DI PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BLITAR
- KEGIATAN SEMARAK KEMERDEKAAN PROGRAM STUDI D-3 KEPERAWATAN KAMPUS BLITAR
TRACING TBC TERINTEGRASI DAN CEK KESEHATAN GRATIS (CKG) KECAMATAN SANANWETAN KOTA BLITAR
_(1).png)
BLITAR — Dinas Kesehatan Kota Blitar berkolaborasi dengan Kemenkes Poltekkes Malang Kampus 3 Blitar dan Puskesmas Sananwetan menggelar hari kedua kegiatan "Tracing TB Terintegrasi dan Cek Kesehatan Gratis (CKG)" pada Rabu (23/9/2026). Bertempat di Wilayah Kecamatan Sananwetan, kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari (22–24 September 2026) ini ditujukan bagi masyarakat umum, mahasiswa Poltekkes, hingga kontak erat kasus TBC guna mendeteksi serta mencegah penularan penyakit di tengah masyarakat.
Rangkaian alur pelayanan dimulai sejak pukul 07.30 WIB secara sistematis, diawali dengan pendaftaran di Meja 1, pemeriksaan fisik dasar, pengukuran tanda-tanda vital, hingga tes laboratorium sederhana seperti gula darah dan pemeriksaan gigi. Peserta juga menjalani skrining gejala respiratori sebelum diarahkan untuk melakukan pemeriksaan Mobile X-Ray Toraks menggunakan perangkat rontgen dada portable. Layanan kemudian ditutup dengan konsultasi bersama dokter mengenai status TBC, penyerahan logistik dan obat-obatan, serta edukasi promosi kesehatan (promkes) hingga seluruh proses penanganan berakhir pada pukul 11.20 WIB.
Dokter Dea dari tim pelayanan kesehatan menjelaskan bahwa kegiatan ini mengusung pendekatan jemput bola untuk mendekatkan akses layanan kesehatan kepada warga. "Kalau pelayanan di puskesmas itu kan pasien datang ke kami ya, tapi kalau untuk kegiatan hari ini cek kesehatan gratis ini kita yang berkunjung ke wilayah agar harapannya pasien itu lebih dekat dengan kami, memudahkan pasien untuk melakukan pemeriksaan," jelas dr. Dea. Ia menambahkan bahwa tujuan utama program ini adalah deteksi dini serta penemuan kasus secara aktif (active case finding) agar penderita TBC bisa segera mendapatkan pengobatan lebih awal, sekaligus mendukung target nasional Indonesia Zero TBC pada tahun 2030.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, strategi penjaringan peserta dilakukan melalui promosi media sosial Puskesmas Sananwetan serta keterlibatan aktif kader kesehatan Integrasi Layanan Primer (ILP) di setiap kelurahan. Ibu Sikma, selaku Programer TBC, mengungkapkan bahwa kader mendata langsung sasaran dengan kriteria khusus, seperti warga yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, ODHIV, penderita diabetes melitus, anak-anak dengan berat badan stagnan, hingga kontak erat pasien TBC. Namun, ia tak menampik adanya hambatan sosial dalam proses pendataan. "Tantangan terbesar ini masih tentang stigma di masyarakat, karena masyarakat tuh masih banyak yang takut kalau mau kegiatan X-ray TBC, screening TBC itu takut nanti dia di-TBC-kan. 'Oh jangan-jangan nanti saya TBC, nggak usah periksa saja' gitu. Jadi tantangannya di situ dalam menjaring," ungkap Ibu Sikma.
Meski dihadapkan pada tantangan stigma, antusiasme masyarakat dan mahasiswa dalam memeriksakan kesehatan terbilang sangat tinggi. Salah satu warga setempat, Ibu Siti Fatimah, mengaku sangat termotivasi untuk mengikuti kegiatan ini karena selain bisa melakukan pemeriksaan kondisi tubuh secara menyeluruh, ia juga dapat memperoleh wawasan baru mengenai kesehatan yang sangat bermanfaat untuk menunjang peningkatan kesehatan diri beserta keluarganya.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Trianang, turut mengapresiasi tingginya partisipasi warga dan mahasiswa Poltekkes yang memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan komprehensif hingga rontgen dada portable tersebut. Selama tiga hari pelaksanaan, target 100 sasaran peserta yang ditetapkan berhasil tercapai sepenuhnya.
Pihak Dinas Kesehatan Kota Blitar berharap melalui kegiatan terintegrasi ini, berbagai faktor risiko penyakit menular maupun tidak menular—seperti kebiasaan merokok, obesitas, dan hipertensi—dapat diintervensi sejak dini melalui edukasi. Seluruh data hasil pemeriksaan warga telah terintegrasi langsung ke dalam sistem pencatatan kesehatan masyarakat Sananwetan, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etik kerahasiaan medis pasien demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Blitar secara berkelanjutan.

_(1)_(1).png)
.png)
.png)